
はじめに
Sebenarnya ini adalah gabungan dari tulisan Pak Yuli Setyo dan saya. Waktu saya nulis sendiri, eh nemuin tulisan beliau, isinya koq mirip banget sama tulisan beliau ini. Akhirnya dijadiin satu, macam fusion-nya Songoku+Bejita di Dragon Ball,hahaha.
Beberapa bagian ada yang tulisannya Pak Yuli, beberapa bagian saya tambahkan dengan tulisan saya, yakni pada bagian tertentu saya menceritakan pengalaman pribadi. Nah disitu letak tulisan saya tersebut. Copy cat yah? Iya,hehehe, tapi kan udah di edit gitu, jadi gak copy cat amat,hahaha…
Coretan sederhana ini tidak mengisahkan tentang legenda Bangsa Samurai dahulu kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Cerita di sini berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian di tanah air tercinta. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta.
Tulisan ini muncul bermula dari pikiran bahwa dari sini terdapat makna-makna kebaikan yang patut diteladani. Tulisan ini bisa diartikan curhatan saya selama “menghayati” kehidupan di Jepang ini. Ya, sudah hampir 11 bulan saya di Jepang, tepatnya belajar di Kobe University. Dan takterasa bulan depan sudah harus balik ke tanah air tercinta. Harus berhadapan lagi dengan banyaknya ketidakteraturan, berhadapan lagi dengan banyaknya ketidakdisiplinan, dan juga INTERNET yang lemot.com,uhhhh… mungkin ini juga salah satu yang bikin gak betah,hahaha… masak internet kita 1/100 connection rate-nya Jepang???juauh banget bedanya… pantes aja ya, kalo internetan di Indonesia (wabil khususon di kampus), kayak gini nih critanya:
Main goal yakni buka imel Yahoo:
- ketik: mail.yahoo.com –>ENTER, tinggal dulu panasin air buat bikin kopi susu
- mulai muncul kata Yahoo!Mail , itupun atasnya aja, nah airnya dah panas, sekarang tinggal beli kopi susu instan dulu di Sakinah Swalayan coz kehabisan bekal,hahaha
- balik ke Lab, mulai muncul Yahoo! ID:…… & Password:…….., masukkan ya, lalu ENTER, tinggal dulu gak papa koq, tadi kopi susu instannya dah siap kan? nah skarang tuangin kopi susu bubuknya, tambahin sedikit gula sesuai selera. Tuangin air panas, lalu aduk, kopi susu panas siap di sruput. Sekarang balik lagi ke meja…
- Wah dah mulai muncul Welcome rusmanto, bawahnya dikit sudah keliatan CHECK EMAIL,hahaha, langsung aja Klik itu button CHECK EMAIL. Nah sekarang main catur dulu sama temen-temen, ato main MINESWEEPER aja, bawaan windows kan ada tuh,hahahaha
- ya gitu lah critanya, sampek SIGN OUT pun harus nunggu 5 menit, CAPE DEH
Nah sekarang balik maning ke topik, about Japan, nih critanya…
01. Kantor pemerintahan dan pelayanan publik
Anda pernah melihat sekelompok semut atau tawon? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada “semut” atau “tawon” yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam. Semua mengerti tugas dan kewajiban masing-masing, sebagaimana semut atau tawon. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam “semut-semut” yang sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus J.
Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama – tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat.
Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya, melayani dengan cepat, tanggap dan ramah. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. Berdasarkan penelitian rekan dari Yuli Setyo mengatakan bahwa gaji mereka – para “semut” tersebut – tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.
Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan tersebut, saya harus mendatangi kantor walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan (arubaito = part time job), apakah ada tanggungan anak dan anak anda tinggal bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dan sebagainya. Dan dalam banyak hal, pertanyaan-pertanyaan tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari “RT, RW, Kelurahan” dan sebagainya. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan kejujuran.
Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat sekaligus sangat efisien. Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang agak kurang lancar berbahasa Jepang, saya mendapatkan “fasilitas” diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai dokumen.
Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya membaca prinsip “the biggest (service) for the small” yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-orang yang kurang beruntung.
Pameo “kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah” tidak saya jumpai di Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho), waktu itu saya hendak mengurus asuransi kesehatan baru karena saya berpindah tempat tinggal di Ashiya yang semula di Kobe. Saya sudah mengganti Kartu Tanda Penduduk (KTP) dengan KTP baru yang berdomisili di Ashiya. Dan itu tidak perlu mengganti KTP yang benar-benar baru, cukup dengan menuliskan alamat tempat tinggal baru di balik KTP tersebut, sungguh gampang dan tentunya tidak perlu membayar seperti di tanah air tercinta.
Kembali ke urusan asuransi kesehatan, waktu itu saya diminta untuk menyerahkan beberapa berkas untuk pengurusan asuransi kesehatan, kemudian saya mengatakan bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama sewaktu di Kobe. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota Ashiya ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen tersebut sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana. Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di Jepang.
Sebuah paradigma bekerja di Jepang “Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja”. Saya membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda pancal melintasi kantor walikota (shiyakusho). Sangat mudah diamati karena kantor walikota tersebut terletak persis di seberang jalan dimana saya biasa bersepeda melewati jalan itu. Sebagian besar lampu di kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja – versi Jepang.
02. Pasar dan Pertokoan, pertunjukan kejujuran dan perhatian
Suatu kali saya pergi ke sebuah toko olahraga, namanya “Sport Depo”. Toko ini begitu digemari kawan-kawan mahasiswa karena barang yang dijual bagus-bagus dan seringkali terdapat diskon. Tujuan utama waktu itu adalah membeli sepatu karena sepatu yang saya pakai cuma satu, bawa dari Indonesia dan terkadang bau karena tidak ada ganti. Waktu itu pandangan saya tertuju pada sebuah sepatu dan disampingnya ada tulisan “Nike+Ipod”. Kontan wajah saya mendadak hingar bingar ceria karena harganya “cuma” 13.000Yen dengan kurs 1Yen samadengan Rp80. Padahal kalau beli Ipod-nya sendiri sudah 10.000Yen, harga sepatu Nike sendiri 15.000Yen. Betapa murahnya? Pikir saya dalam hati.
Seketika saya ambil sepatu tersebut beserta 1 paket yang saya kira Ipod tersebut. Dalam hati saya sudah terbayang akan saya berikan ke adik saya Ipod tersebut tentu akan senang. Sewaktu membayar di kasir, saya agak ragu dengan apa yang berada di dalam bungkusan yang bertuliskan “Ipod” tersebut. Saya berkata ke mise no hito (orang kasir), “Sumimasen ga, ano, kore chotto misete kudasai ne” arti lugasnya “Ah, mohon maaf, tolong tunjukkan isinya ini”. Kemudian si penjaga kasir membuka kotak yang saya kira berisi Ipod tersebut. Kaget bukan main, ternyata isinya hanyalah sebuah transmitter, jadi cuma alat yang bisa dicolokkan ke Ipod untuk mengukur detak jantung. Alat tersebut bisa menerima sinyal dari sepatu yang didalamnya ada sensor hentakan.
Dengan agak ragu, grogi, dan malu saya berkata; “Anou, hontouni gomennasai, kore desu ne, watakushi ha Ipod dato omoimashitakedo…, kore kawanaindesukedo…daijoubu nan desuka?” artinya; “Ehm, saya benar-benar minta maaf, ini saya kira Ipod, kalau saya tidak jadi beli ini bagaimana?”
Waktu itu saya benar-benar takut kalau penjaga kasirnya marah besar, mengingat bungkusnya sudah rusak parah karena sudah di edel-edel. Sembari tersenyum penjaga kasir justru minta maaf dan berkata “Daijoubu yo” artinya “tidak apa-apa”. Mereka mengatakan bahwa mereka yang salah karena memasang tulisan yang membingungkan seperti “Nike+Ipod”, jadi pembeli mengira itu sepatu dan Ipod. Akhirnya saya tersenyum lega waktu itu. Betapa ramahnya orang-orang Jepang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan. Coba kalau itu terjadi di Indonesia, pasti sudah kena damprat atau dipaksa membeli.
Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, saya selalu menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh – sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada “pemaksaan” untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu seperti yang biasa terjadi di swalayan-swalayan atau wartel-wartel di Tanah Air. Selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, saya sekaligus kagum dengan sistem perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis atau jidouhanbaiki) di se-antero Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat “sepele”; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli.
Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah memastikan bahwa everything is ok (nan demo daijoubu). Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak – seperti semut.
03. Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi
Saya sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe ketika melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan hiperbola. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) yang gagah mengendarai motor besar bak Chip – ini jumlahnya sedikit. Namun polisi kota besar seukuran Kobe – salah satu kota metropolis di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan Tanah Air.
Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa benar dengan motor bebek tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Motor bebek tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang – mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara dengan system network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) – kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan berisi. Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata melakukan patroli dengan motor bebeknya. Mereka hanya perlu melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.
04.Lingkungan hidup dan transportasi
Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan kebersihan. Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan- jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi.
Orang Jepang meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai hal.
Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta (lokal, express, limited express, super express), shinkansen, dan pesawat terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan sendiri – kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.
Nasehat “Tengoklah dulu kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan” mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu lambang Pejalan Kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda akan selamat sampai ke seberang – tanpa perlu menengok kiri dan kanan. Tapi kalau itu anda terapkan di Indonesia, walau lampu sudah hijau, mungkin masih ada kemungkinan besar Anda akan terserempet atau ditabrak motor.
05. Kesehatan dan rumah sakit
Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa pula, saya dianjurkan untuk mengikuti program asuransi kesehatan nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat. Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% dari Kementrian Pendidikan Jepang.
Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi kami di Jepang. Jangan membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi. Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar- benarnya. Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya.
Demikian sekilas tentang Jepang, semoga ada nilai yang bisa dipetik.
みんながんばろう
1ヵ月半後でしょ、ぼくは帰る






January 11, 2008 at 6:52 pm
siippp setuju nih, banged.gag mleset blas. eh kapan yah indo kayak jepang…, yah smua serba 180 drajat klo dibanding2in. emmm… menilik petikan temenku yang slalu marah2 klo kita banding2in indo ma jepang `negara kita tu dah jelek jadi gaperlu jelek2in lagi` emmm iyah sih… tp whatever tetep gada tempat seindah indo, miss it so much, bner gak dulur heheheheh
January 12, 2008 at 11:52 am
Sebagus2x dunia luar lebih indah dunia sendiri……. cia you friend!
January 12, 2008 at 4:10 pm
hmmm.. seandainy
aj Indo-kt trcinta bs niru ‘hal hal’ yg ky gt yah
so g cm niru dorama2 doang yg d jdiin sinetron
Mgkn bth kita2 in kali ya.. utk mgubh dunia ha ha ^_^
February 5, 2008 at 12:04 pm
saya ralat dikit, untuk urusan ngelaksanain kerja sama aja sama di indo. Kebetulan saya kerja di perusahaan jepang. Alhamdulillah sempat di kirim ke sana juga untuk training.
he he he) kalo di sana waktunya kerja, ya kerja, waktunya istirahat, ya istirahat. waktunya senang2 ya senang2. dan senang2 nya orang sana ya benar2 senang-senang. di kantor tempat saya training, setelah pulang untuk yang laki2 jarang pada pulang ke rumah, mereka lebih memilih makan di luar, disana mereka ngobrol2 baik soal kerjaan ato keluarga sampai malam jam 8 ato jam 9, bahkan kalau sampai mabok minum beer ato sake bisa sampe jam 10 an ato jam 12. mungkin asumsinya mereka sampe rumah tinggal tidur dooang….
di tempat saya training dulu di hamamatsu sama aja kok. orang2 nya teng-go- teng langsung go.
mereka disiplin. dan mereka sangat menghargai waktu. waktunya kerja jam 8 ya mereka harus datang jam 8. waktunya pulang jam 5 sore, ya pulang, kecuali ada perkerjaan yang belum selesai.
sama aja kok sama disini. cuma ya itu di sana kerja gak ada yg maen2 kayak di sini. di sini kerja sambil iseng buka email ato browsing (kayak saya sekarang ini
yg saya salut keramah-tamahannya melebihi orang kita, juga disiplin nya itu ya bener2 disiplin seperti yang di ceritain bung rusmanto.
kedisiplinan dan kemandirian yang di tanamkan dari kecil mau di sekolah atau di keluarga itu kuncinya.
rata2 di kota besar (untuk pasangan yg suami isteri bekerja) anak bayi itu udah masuk ke penitipan bayi dari umur 6 bulan. Untuk perempuan yg baru melahirkan di sana dapat cuti sampai 1 tahun. dalam waktu bulan mereka harus menyiapkan anak mereka untuk bisa di tinggal alias mandiri. dan 6 bulannya lagi tinggal membiasakan anak mereka untuk bisa di lepas di penitipan. karena ibunya harus masuk keja lagi setelah anak itu 1 th.
kebayang kan betapa namanya disiplin dan mandiri udah di terapin dari bayi.
dari dasar ini kebetulan pemerintah juga menyediakan sarana untuk menunjang kedisplinan warganya. akhirnya tercipta kesadaran dari warga itu , mereka akan malu (bukan takut) kalau tidak disiplin.
but di balik semua itu ada juga sisi buruknya…. yaa legalitas untuk masalah hiburan (sensor), mungkin bagi orang sana itu sebagian dari pelampiasan kali ya….
yang jelas kita gak bisalah seperti mereka, mereka juga gak bisa seperti kita. karena kita lain budaya dan latar belakang.
apa iya kita siap untuk selalu disiplin. saya pribadi sih belum siap. karena kalau di pikir kita ini ya kita, masih butuh keluarga, masih butuh santai, karena hidup bukan sekedar mencari ilmu dan uang tapi untuk di rasakan. gak kaya di jepang semua serba cepat dan serba harus disiplin, serba harus mandiri yang efeknya mungkin lebih ke arah individual seperti di negara2 barat nantinya.
March 17, 2008 at 11:59 pm
saya tidak tahu begitu banyak tentang kehidupan di jepang, namun untuk saat ini saya sagat tertarik dengan kehidupan di jepang. buat saya orang-orang jepang terlihat menarik. bahkan saat ini saya juga sedang belajar bahasa jepang. karena itu saya akan sangat senang bila anda mau berbagi cerita dengan saya tentang kehidupan di jepang. saya sangat ingin tahu lebih banyak tentang jepang, mudah2an suatu saat nanti saya di beri kesempatan untuk bisa mengunjungi jepang.
arrigato gozaimasu
February 11, 2009 at 8:04 pm
mau sedikit koreksi tentang judul, bukan 日本生活について、tapi 日本で生活について,
teimakasih